Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (Pegar)

Latar Belakang

Abrasi pantai di Indonesia merupakan salah satu permasalahan utama dalam upaya perlindungan pesisir pantai. Fenomena ini dapat berdampak pada tergerusnya garis pantai yang dapat mengganggu permukiman serta infrastruktur serta fasilitas umum lainnya.

Penanganan erosi pantai telah banyak dilakukan dengan menggunakan struktur keras (hard structure), seperti: revetmen, pemecah gelombang, tembok laut, groin atau kombinasi dari jenis pelindung pantai tersebut. Penerapan struktur keras terkadang hanya mengamankan satu ruas pantai saja, hal ini  berdampak pada timbulnya  erosi di ruas pantai lainnya. Walaupun struktur keras terbukti berhasil mengatasi erosi pantai berpasir atau berkarang, namun kenyataannya kurang efektif dalam mengatasi erosi khususnya pada pantai berlumpur.

Solusi atas permasalahan erosi dan abrasi pantai  yang disebabkan oleh  adanya pasang surut dan gelombang laut, maka  dibuat Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR). Dengan menggunakan teknologi ini maka akan makin banyak ruas pantai yang bisa diselamatkan dari terjadinyaa erosi dan abrasi.

 

Deskripsi Teknologi

Teknologi PEGAR adalah sebagai berikut:

  1. Terdapat beberapa material yang dapat digunakan untuk membangun PEGAR, yaitu yang telah diterapkan adalah Geotube (karung geotekstil panjang)  dan Geobag (karung geotekstil kecil).
  2. PEGAR Geobag Rangka Bambu adalah struktur pemecah gelombang ambang rendah berbahan karung geotekstil kecil dengan bambu sebagai rangka PEGAR.
  3. Struktur PEGAR berupa kombinasi tiang-tiang bambu dengan bagian tengah struktur diisi karung pasir (geobag) ukuran 0,4 x 0,6 x 0,8 m dengan tinggi puncak struktur di atas muka air rata rata (MSL) dan di bawah  muka air tertinggi (HWL).
  4. Puncak struktur PEGAR  muncul ke permukaan saat air rendah atau surut, namun tenggelam saat air laut pasang.

Keunggulan

Teknologi PEGAR memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Biaya pembuatannya lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat pesisir dibandingkan dengan biaya pembuatan bangunan pelindung pantai konensional..
  2. Pengertjaannya tidak terlalu sulit dan bersifat partisipatif melibatkan masyarakat setempat.
  3. Memberikan perlindungan pantai dari terjadinya erosi dan abrasi pantai yang dapat menggerus ekosistem bakau dan fasilitas publik akibat dari adanya gelombang pasang surut dan gelombang laut yang ekstrim
  4. Meningkatkan potensi penambahan sedimentasi melalui proses overtopping pada saat gelombang  tinggi
  5. Memberikan perlindungan terhadap upaya reboisasi bakau.