Teknologi IPAL Tahu

Tempe dan tahu masih menjadi sumber protein nabati utama bagi penduduk Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional pada tahun 2016 merilis bahwa tingkat konsumsi tahu per kapita mingguan di Indonesia mencapai 0,151 kilogram per kapita per minggu dan tempe sebesar 0,141 kg per kapita per minggu. Jumlah ini delapan belas kali besarnya dari kebutuhan daging sapi yang hanya sebesar 0,008 kg per kapita per minggu sebagai sumber protein hewani. Disisi lain tempe dan tahu dipilih karena harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan daging, serta mudah didapat. Salah satu contoh sentra industri tahu yang belum melakukan pengolahan limbah cair terletak di Dusun Ponalan, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Terdapat 17 pengrajin tahu dengan total produksi 2000 sampai 2500 kg per hari. Dengan produksi sebesar berdampak pada limbah cair yang dihasilkan belum dapat diolah dengan baik yang tentunya berdampak negatif terhadap lingkungan permukiman maupun sungai sebagai hilirisasi pembuangan limbah cair tersebut

Untuk mengatasi permasalahan limbah tahu tersebut, Balitbang PUPR menghadirkan teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah Tahu untuk mengatasai pencemaran limbah industri tahu yang terjadi di Desa Tamanagung.

Teknologi ini menggunakan bakteri pengurai alami limbah untuk mengolah Limbah cair yang dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan, dan pencetakan tahu