Teknologi Beton Ferosemen

Secara umum kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi primer dan sekunder hampir disetiap daerah irigasi di Indonesia, mencapai rata-rata 30%. Sedangkan pada jaringan tersier mencapai hingga 60%. Penyebab kerusakan tersebut diantaranya karena longsoran tebing dan penumpukan sedimen. Kondisi jaringan tersier tersebut akan semakin rusak karena kemampuan finansial petani sangat lemah untuk mendukung operasi dan pemeliharaan, khususnya pada jaringan irigasi tersier, yang berakibat pada kerusakan jaringan, tidak meratanya debit distribusi air, penurunan efesiensi pelayanan air serta fungsi saluran tersier.

Dalam mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi, Balitbang PUPR menghadirkan teknologi Ferosemen Jaringan Irigasi yang berfungsi mendukung penyediaan suplai air irigasi

Teknologi Ferosemen merupakan teknologi konstruksi yang mudah diterapkan, hasilnya kuat, lentur, tahan lama, dan lebih ekonomis, serta mudah diadaptasi ke dalam prinsip fisik, mekanik maupun teori hidraulika. Teknologi Ferosemen merupakan tipe dinding beton bertulang, tipis dengan ketebalan hanya 3 cm, yang dibuat dari mortar semen hidrolis, dengan perbandingan campuran 1 semen berbanding 2 sampai 3 pasir yang diberi tulangan 6 milimeter dengan lapisan kawat anyam berukuran 1 milimeter, terus-menerus dan rapat

Berbeda dari beton bertulang biasa dalam penulangan yang terdiri dari tulangan yang rapat, beberapa lapis kawat jala atau kawat anyam yang diisi dan diselimuti dengan semen mortar kurang dari 1,5 centimeter, bahan ini dapat dibentuk sebagai bidang yang tipis dengan ketebalan antara 3 sampai 6 centimeter. Sementara ketebalan beton konvensional diatas 8 centimeter yang dibentuk dengan cetakan, sedangkan ferosemen bisa tanpa cetakan Keunggulan teknologi Ferosemen adalah sebagai berikut: (1) Mudah diaplikasikan; (2) Kuat, lentur, dan tahan lama dibandingkan dengan teknologi beton biasa yang lebih tebal dan dibentuk dengan cetakan; (3) Lebih ekonomis dibandingkan dengan teknologi konvensional; (4) Mudah diadaptasikan ke dalam prinsip fisik, mekanik, maupun hidrolik; (5) Penggunaan material lokal dan dapat dibuat insitu atau di tempat lain untuk selanjutnya dirangkai di lapangan; (6) Lebih efektif dan efisien dengan metode yang cukup sederhana; (7) Dapat diadaptasi di berbagai lokasi; (8) Mampu dioperasikan oleh petani Untuk mendukung pemanfatan teknologi beton ferosemen dalam upaya peningkatan kinerja jaringan irigasi tersier, Balitbang PUPR melalui Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi telah menerapkan di Kelurahan Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Lokasi tersebut dipilih sebagai lokasi penerapan karena merepresentasikan adanya masalah kebocoran, sedimentasi dan longsoran saluran irigasi tersier yang umumnya terjadi pada persawahan Indonesia